FTTPMN 2025 Hadirkan Dialog Baru Tari Tradisional Indonesia
Surabaya,
15 November 2025 — Festival Tari Tradisional Pelajar Mahasiswa Nasional
(FTTPMN) 2025 resmi dibuka dengan antusiasme tinggi dan energi yang menggema
sejak pagi. Kegiatan yang diprakarsai oleh Kelompok Kegiatan Mahasiswa (KKM)
Tari Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
ini kembali menegaskan bahwa tari tradisional bukan sekadar produk budaya,
tetapi pengetahuan yang hidup, berkembang, dan terus bernegosiasi dengan
dinamika zaman.
Hari
pertama pelaksanaan lomba diisi oleh deretan penampilan kelompok pelajar
tingkat SMA/SMK dari berbagai daerah Surabaya, Malang, Jombang, Lamongan,
hingga Tulungagung. Sejak pembukaan gerbang pukul 07.00 WIB dan seremoni awal
pada pukul 08.00 WIB, atmosfer kompetisi terasa intens namun hangat. Panjangnya
daftar peserta yang tampil hingga sore hari memperlihatkan tingginya minat
generasi muda terhadap seni tradisi dan upaya mereka untuk merawatnya melalui
kreativitas.
Setiap
tim membawa karya tari yang telah mereka dalami dan olah. Tantangan bagi
peserta bukan hanya menampilkan estetika gerak yang indah, tetapi juga
menunjukkan pemahaman mendalam terhadap akar tradisi yang mereka bawa sekaligus
menghadirkan interpretasi baru yang relevan. Melalui kompetisi ini, panggung
FTTPMN berubah menjadi ruang intelektual tempat di mana tradisi ditafsirkan
ulang, diuji, dan diperkaya tanpa kehilangan identitas dasarnya.
Penyelenggaraan
FTTPMN oleh KKM Tari Sendratasik bukan sekadar kegiatan kompetisi, tetapi
memiliki kontribusi langsung terhadap implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Festival ini membuka ruang pembelajaran manajerial bagi mahasiswa, mendorong
peserta melakukan riset autentik tentang tari yang mereka bawakan, serta
menjadi bentuk pengabdian nyata dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal.
Penjadwalan
yang rapi dan protokol lomba yang ketat setiap tim diberi durasi pementasan
sepuluh menit menunjukkan profesionalisme panitia serta kedisiplinan yang
dibangun bersama liaison officers (LO) yang tersebar di berbagai titik. Hal ini
sekaligus menjadi barometer kualitas penyelenggaraan seni pertunjukan di
lingkungan akademik.
Selain
menjadi ajang kompetisi, FTTPMN 2025 berhasil membuka dialog budaya yang
penting. Gerak tubuh, musik pengiring, dan narasi simbolik yang dihadirkan para
peserta menyuarakan keragaman identitas daerah sekaligus menunjukkan bahwa
tradisi tidak berhenti sebagai warisan, melainkan terus berkembang melalui
generasi muda.
Hari
pertama festival menjadi pijakan kuat bagi rangkaian acara selanjutnya.
Keberhasilan penyelenggaraan ini sekaligus memperkokoh posisi Unesa sebagai
institusi yang konsisten merawat, mengembangkan, dan mengkritisi seni
tradisional lintas daerah di tengah derasnya arus modernitas.