“Mistery of the Soul”: Mahasiswa Unesa Bakar Ketakutan di Atas Panggung, Hadirkan Teater sebagai Ujian dan Terapi
Surabaya,
19 Desember 2025 — Di tengah hiruk-pikuk akhir semester, mahasiswa Program
Studi S1 Pendidikan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas
Negeri Surabaya (Unesa), memilih jalan yang tak biasa: menjadikan panggung
sebagai ruang ujian sekaligus ruang penyembuhan. Melalui produksi akhir
semester bertajuk “Purna Madya Warsa: mata kuliah Penyutradaraan dan tata artistik
mahasiswa Angkatan 2024 serta mata kuliah Seni Peran Realis mahasiswa angkatan 2025”,
mereka menghadirkan teater bukan hanya sebagai tugas akademik, tetapi sebagai
ekspresi jiwa yang utuhn penuh kerentanan, keberanian, dan kebersamaan.
Rangkaian
pementasan “Purna Madya Warsa” resmi dibuka pada Jumat, 19 Desember 2025 di
Graha Sawunggaling Unesa. Dua pertunjukan perdana mengusung tema “Mistery of
the Soul: Membakar Ketakutan, Menyala dalam Kebersamaan”, sebuah metafora
tentang bagaimana seni pertunjukan menjadi medium untuk menghadapi ketakutan
personal dan kolektif.
Pertunjukan
pertama, “Senja dengan Dua Kelelawar” mengisahkan perjuangan Ismiyati seorang
perempuan yang bertahun-tahun menanti cinta di ambang stasiun, sementara
reputasinya dihancurkan oleh fitnah. Pertunjukan kedua, “Orang-Orang di
Tikungan Jalan”, mengeksplorasi pertemuan dua jiwa terluka Sri, seorang pekerja
seks komersial yang masih menyimpan rasa kemanusiaan, dan Djoko, pemuda depresi
yang terjebak masa lalu di sebuah tikungan gelap yang menjadi ruang pengakuan
dan pelepasan.
Pementasan
berlangsung selama tiga hari (19–21 Desember 2025) di Graha Sawunggaling, kampus
Unesa 2 lidah wetan. Ruang pertunjukan yang dipilih karena kapasitas, akustik,
dan dukungan teknis yang memadai bagi eksperimen artistik mahasiswa. Hari
pertama menjadi pembuka simbolik dari proses akademik yang mengintegrasikan
penyutradaraan, pemeranan, dan tata artistik dalam satu produksi utuh.
“Purna
Madya Warsa” tidak hanya menilai kemampuan teknis, tetapi juga kompetensi
manajerial, kewirausahaan, dan empati sosial. Mahasiswa tidak hanya berlatih
akting atau menyutradarai, tetapi juga mengelola anggaran, merancang promosi,
mengatur tim, dan membangun relasi dengan penonton. Ini adalah bentuk
implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian melalui eksplorasi
estetika, dan pengabdian melalui karya yang menyentuh publik.
Proses
kreatif dirancang sebagai simulasi produksi profesional. Setiap kelompok
mahasiswa bertanggung jawab atas naskah, desain panggung, tata rias, kostum,
pencahayaan, hingga sesi talking pasca-pertunjukan. Pendekatan ini melatih
mereka bukan hanya menjadi seniman, tetapi juga manajer budaya yang siap
berkontribusi di dunia nyata.
Dengan
“Mistery of the Soul”, mahasiswa Sendratasik Unesa membuktikan bahwa teater
bukan pelarian dari realitas melainkan cermin yang memaksa kita melihat,
merasakan, dan berubah. Di tengah tantangan mental dan sosial generasi muda
hari ini, panggung menjadi ruang aman untuk membakar ketakutan dan menyala
bersama.