Purna Madya Warsa: Karya Kolaboratif Mahasiswa Unesa Buktikan Seni Bukan Ujian, Tapi Manifesto
Surabaya,
19 Desember 2025 — Dalam tiga hari berturut-turut (19–21 Desember 2025), Graha
Sawunggaling Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berubah menjadi panggung
pernyataan estetika, intelektual, dan kemanusiaan. Mahasiswa Program Studi
Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa menyelenggarakan
pagelaran akhir semester bertajuk “Purna Madya Warsa”, sebuah produksi
kolaboratif yang menggabungkan tiga mata kuliah inti: Penyutradaraan, Seni Peran,
dan Tata Artistik. Pagelaran ini bukan sekadar ujian akhir semester biasa melainkan
wujud nyata integrasi teori dan praktik seni pertunjukan yang komprehensif.
Sebanyak
enam naskah dipentaskan oleh enam kelas berbeda, masing-masing menghadirkan
visi artistik yang khas dan kontekstual:
Senja dengan 2 Kelelawar, Orang-Orang di Tikungan Jalan, Pride and
Prejudice, Pada Suatu Hari, Musuh Masyarakat, Mega-Mega.
Setiap
pertunjukan mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam menafsirkan naskah,
membangun karakter, merancang ruang visual, serta mengelola dinamika panggung
secara holistik. Karya-karya tersebut tidak hanya menunjukkan penguasaan
teknis, tetapi juga kedalaman refleksi terhadap isu sosial, identitas, dan
paradoks kemanusiaan.
Pagelaran
ini melibatkan ratusan mahasiswa sebagai aktor, sutradara, desainer tata
artistik, dan kru teknis. Acara dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Anas Ahmadi,
M.Pd. Wakil Dekan I FBS Unesa, yang menekankan pentingnya seni sebagai
medium pendidikan karakter dan ekspresi kritis. Sebelumnya, Dr. Welly
Suryandoko, M.Pd., Koordinator Program Studi Pendidikan Sendratasik, memberikan
pengantar akademik yang menegaskan bahwa “panggung adalah laboratorium nyata
bagi calon pendidik seni”.
Turut
hadir dan memberikan pengawalan akademik para dosen pengampu: Dr. Autar
Abdillah, S.Sn., M.Pd., Dr. Arif Hidajad, S.Sn., M.Pd., Dr. Indar Sabri, S.Sn.,
M.Pd., serta Syaiful Qadar Basri, S.Pd., M.Si. Kehadiran mereka menunjukkan
komitmen institusi dalam menjaga kualitas pendidikan seni yang berbasis pada
praksis kreatif dan tanggung jawab sosial.
Seluruh
rangkaian “Purna Madya Warsa” digelar di Graha Sawunggaling, Kampus Unesa 2 Lidah
Wetan, dari Jumat (19/12) hingga Minggu (21/12) 2025. Setiap hari, dua
pertunjukan dipentaskan masing-masing diselingi sesi talking dengan sutradara
dan ditutup dengan foto bersama sebagai bentuk apresiasi kolektif terhadap
proses kreatif.
“Purna Madya Warsa” bukan hanya menandai akhir semester, tetapi juga kelulusan dari siklus pembelajaran intensif yang menempa mahasiswa menjadi pelaku seni yang holistic mampu menyutradarai, berakting, merancang ruang, sekaligus memahami posisi seni dalam konteks pendidikan dan masyarakat. Format ujian seperti ini mengikis dikotomi antara akademik dan seni, serta menempatkan kampus sebagai inkubator budaya yang hidup.
acara
dirancang secara profesional dengan pendekatan produksi teater, mulai dari building
set, pencahayaan, pengaturan penonton, hingga manajemen waktu ketat. Setiap
pertunjukan berdurasi 90 menit, diikuti sesi refleksi yang memungkinkan dialog
antara penonton, kreator, dan dosen pembimbing. Penampilan pembuka dan penutup
hari juga dimeriahkan oleh pertunjukan tari dan vokal sebagai bentuk apresiasi
terhadap keragaman ekspresi seni.
Dengan
“Purna Madya Warsa”, mahasiswa Sendratasik Unesa membuktikan bahwa seni
pertunjukan bukan hanya soal estetika, tetapi juga etika, metode, dan tanggung
jawab akademik. Di tengah tantangan pendidikan yang semakin teknokratis,
pagelaran ini menjadi pengingat bahwa manusia tetap butuh ruang untuk
bercerita, bertanya, dan berekspresi dengan tubuh, suara, dan jiwa.