Pernikahan Bukan Mainan, Cinta Bukan Sekadar Arus: Mahasiswa Unesa Tantang Norma Sosial Lewat Panggung Realisme
Surabaya,
20 Desember 2025 — Di hari kedua rangkaian ujian akhir semester bertajuk “Purna
Madya Warsa: Mata Kuliah Penyutradaraan, Tata Artistik mahaiswa angkatan 2024 dan
Seni Peran Realis mahasiswa angkatan 2025”, mahasiswa Program Studi S1
Pendidikan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri
Surabaya (Unesa), kembali menegaskan bahwa teater realis bukan sekadar akting melainkan
cermin kritis terhadap realitas sosial yang mengelilingi kehidupan sehari-hari.
Dua pementasan utama pada Sabtu, 20 Desember 2025, di Graha Sawunggaling Unesa,
mengangkat isu-isu personal yang universal, dari prasangka kelas dalam cinta
hingga kerapuhan institusi pernikahan di era modern.
Dua
karya utama menjadi sorotan hari kedua. Pertama, “Pride and Prejudice” yang
mengadaptasi novel klasik Jane Austen ke dalam konteks pertunjukan realis
kontemporer. Naskah ini menggambarkan ketegangan antara Elizabeth Bennet yang
cerdas namun sinis, dan Mr. Darcy yang angkuh namun jatuh cinta, dua karakter
yang terpisah oleh prasangka sosial, namun dipersatukan oleh kedalaman emosi
dan transformasi karakter.
Pertunjukan
kedua, “Pada Suatu Hari” menyerang langsung akar krisis keluarga modern.
Melalui narasi yang intens dan dialog yang menyentuh, karya ini mengkritik
kecenderungan masyarakat yang memperlakukan pernikahan sebagai “mainan” sebuah
ikatan yang mudah dihancurkan oleh cemburu sepele, tanpa upaya serius membangun
komunikasi dan empati. Pertanyaan sentralnya tajam: “Apa jadinya jika tak ada
saudara atau orang tua yang bisa menyelamatkan pernikahan tersebut?”
“Purna
Madya Warsa” dirancang bukan hanya sebagai ujian akademik, tetapi sebagai simulasi
produksi profesional yang melatih mahasiswa dalam manajemen panggung,
pengelolaan keuangan, kolaborasi tim, hingga kewirausahaan seni. Lebih dari
itu, pertunjukan ini menjadi bukti bahwa seni realis masih sangat relevan dalam
mengkritik dan merefleksikan dinamika sosial, terutama isu gender, kelas, dan
ketahanan keluarga topik yang jarang dibahas secara jujur di ruang publik.
Setiap
pertunjukan berdurasi 90 menit, diikuti sesi talking dengan sutradara dan foto
bersama praktik yang memperkuat ikatan antara kreator dan penonton. Antusiasme
penonton, terutama dari kalangan mahasiswa dan dosen, menunjukkan bahwa
panggung realis masih mampu memicu dialog emosional dan intelektual.