Family Gathering yang Berjiwa: Menjadikan Akhir Tahun sebagai Ruang Kontemplasi, Bukan Sekadar Hiburan
Di
penghujung tahun, hampir setiap institusi baik pemerintah, swasta, maupun
akademik menggelar ritual tahunan: family gathering, Rapat Kerja, evaluasi
akhir tahun, atau semacamnya. Namun, sebagian besar acara tersebut sering kali
terjebak pada format seremonial: makan bersama, hiburan ringan, dan foto-foto
simbolis yang lebih menyerupai pesta dari pada refleksi. Dalam konteks itulah,
inisiatif Program Studi Pendidikan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Surabaya (FBS Unesa), layak menjadi contoh kontras yang
menginspirasi.
Pada
13–14 Desember 2025, di kawasan Telaga Sarangan, Magetan, prodi ini menggelar
pertemuan tahunan dengan nuansa yang jauh dari hiruk-pikuk administratif maupun
hiburan dangkal. Mereka menyatukan dua hal yang tampaknya berbeda: arisan rutin
bernama “PERMISI” dan momen perpisahan penuh makna bagi Dr. Eko Wahyuni Rahayu,
M.Hum., yang memasuki masa purna tugas setelah 65 tahun mengabdi. Bukan di aula
kampus atau hotel kota, tetapi di tengah keheningan alam sebuah pilihan lokasi
strategis untuk menciptakan ruang kontemplatif di tengah tekanan akhir tahun
yang biasanya dipenuhi laporan, rapat kerja, dan evaluasi kinerja.
Apa
yang menjadikan acara ini berbeda? Jawabannya terletak pada niat dan desainnya.
Di tengah budaya kelembagaan yang cenderung teknokratis, kegiatan ini justru
menekankan dimensi emosional-intelektual: menghargai dedikasi panjang seorang
pendidik, mendengarkan warisan pedagogisnya, dan merenungkan nilai-nilai yang
dibawanya sebagai fondasi visi bersama ke depan. Dalam dunia pendidikan seni yang
menuntut keseimbangan antara kreativitas, empati, dan disiplin professional pendekatan
seperti ini bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan esensial.
Praktik
umum di banyak institusi: kegiatan akhir tahun yang serba eksternal dan
hiburan, namun kurang menyentuh ruang refleksi personal maupun kolektif.
Padahal, dalam perspektif pendidikan transformasional, momen transisi seperti
ini justru menjadi peluang emas untuk mentransfer legacy pengalaman senior
kepada generasi penerus bukan hanya dalam bentuk kurikulum atau kebijakan,
tetapi dalam bentuk narasi hidup, nilai, dan semangat kerja.
Penghargaan
terhadap Dr. Eko Wahyuni Rahayu bukan sekadar formalitas. Ia adalah pengakuan
atas kontribusi nyata dalam mengintegrasikan drama, tari, dan musik sebagai
pilar pendidikan karakter sebuah visi holistik yang kian relevan di tengah
krisis moralitas dan fragmentasi pendidikan saat ini. Dalam konteks ini,
“family gathering” bukan lagi ajang silaturahmi biasa, melainkan ritual
pedagogis yang membangun resiliensi komunitas akademik.
Lebih
jauh, momen semacam ini juga menjadi ruang untuk merancang ulang masa depan.
Melalui dialog yang terbuka dan suasana yang humanis, para dosen dan staf tidak
hanya merayakan pencapaian tahun lalu, tetapi juga menyusun visi baru yang
responsif terhadap tantangan era digital, perubahan budaya, serta tuntutan
dunia seni kontemporer. Inilah bentuk kepemimpinan edukatif yang tidak bersuara
keras, tetapi mendalam.
Namun,
tentu saja, pendekatan seperti ini tidak boleh berhenti sebagai praktik
sporadis di satu prodi. Ia perlu menjadi benchmark bagi institusi pendidikan
lain baik di lingkungan seni maupun sains bahwa akhir tahun bukan hanya waktu
untuk “menutup buku”, tetapi juga untuk “membuka hati”. Di sinilah, kegiatan
akhir tahun dapat bertransformasi dari ajang hiburan menjadi katalisator
perubahan berkelanjutan.
Jika
pendidikan ingin benar-benar memanusiakan manusia, maka ia harus dimulai dari
ruang-ruang yang memuliakan manusia: tempat di mana pengalaman dihargai, emosi
diakui, dan refleksi dijadikan fondasi tindakan. Dan dalam diamnya Telaga
Sarangan, Unesa telah membuktikan bahwa akhir tahun bisa menjadi awal yang
bermakna.