RANKING UNIVERSITAS: BUKAN SEGALANYA
Tertarik membaca tulisan yang
berada di https://sciencewatchdog.id/2024/10/21/membaca-strategi-kepemimpinan-satryo-brodjonegoro-di-kemendikti-saintek/
dengan tajuk Membaca Strategi Kepemimpinan Satryo Brodjonegoro di
Kemendikti-Saintek pada tanggal 21 Okt 2024.
Dalam webinar yang
diselenggarakan pada 15
Oktober 2024—sebelum Satryo Brodjonegoro resmi terpilih sebagai menteri—ia
memaparkan berbagai tantangan dan strategi untuk memperbaiki kondisi perguruan
tinggi di Indonesia diantaranya Peringkat
Global Universitas di Indonesia, Human Capital Index Indonesia
Masih Tertinggal, Urgensi Mindset Riset dan Riset Dasar di Perguruan Tinggi
Indonesia, Hilirisasi Riset: Kolaborasi dengan Industri Sebagai Kunci.
Adalah yang menjadi pusat
perhatian saya dalam materi yang tercantum dalam Expert
Opinion tersebut yaitu pada pembahasan Peringkat Global Universitas di
Indonesia, Dimana tertulis dengan jelas kalimat
Ranking Universitas: Bukan Segalanya. Meskipun peringkat universitas
menjadi salah satu indikator daya saing global, Satryo Brodjonegoro juga
mengingatkan bahwa ranking tidak selalu mencerminkan kualitas yang
sesungguhnya.
“Ranking bukanlah segalanya”, Yang
lebih penting adalah keunikan universitas itu sendiri. Kampus yang memiliki
keunikan akan dicari orang, karena memberikan sesuatu yang berbeda dan relevan.
Ranking hanya membandingkan entitas yang serupa, padahal setiap universitas
memiliki visi, misi, dan budaya yang berbeda,” jelas Satryo Brodjonegoro
yang juga mantan Dirjen Pendidikan Tinggi era Kabinet Persatuan Nasional.
Pernyataan ini menyoroti pentingnya
fokus pada visi dan misi unik yang dimiliki oleh masing-masing
universitas. Setiap perguruan tinggi memiliki peran yang berbeda dalam mencetak
lulusan, memberikan kontribusi kepada masyarakat, dan mengembangkan
penelitian. Ranking global cenderung menyamakan semua
institusi berdasarkan indikator yang seragam, padahal, menurutnya, keberhasilan
sebuah universitas tidak bisa diukur hanya melalui peringkat.
Namun, hal ini bukan berarti
Indonesia tidak harus memperbaiki kualitas akademiknya. Sebaliknya, peringkat
bisa menjadi refleksi tantangan yang perlu diatasi, khususnya terkait kurangnya
publikasi riset ilmiah yang berkualitas dan kontribusi yang lebih signifikan di
tingkat global.
Merujuk dari tulisan tersebut diatas teringat saya akan Visi dan Misi Prodi Pendidikan Sendratasik yang menunjukkan komitmen kuat untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi dalam bidang Pendidikan seni, bidang seni, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan kepedulian terhadap pelestarian budaya. Keunikan dan kekuatan lulusan dari Prodi Pendidikan sendratasik ini dirasa memadai untuk memenuhi tantangan zaman.