FILOSOFI TUKANG JAHIT: SEBUAH KONTRADIKSI DALAM PENDIDIKAN SENI

oleh : Indar Sabri
Podcast Visi Educare, dengan
tema Merdeka Belajar: Kritik Keras Jusuf Kalla Meleset? yang dipandu oleh Ade Irawan
dengan menghadirkan Bambang Wisudo sebagai narasumber telah memunculkan sebuah Selogan
menarik tentang "Filosofi Tukang Jahit" dalam konteks pendidikan. selogan
ini mencoba mengaitkan proses pendidikan dengan proses pembuatan pakaian oleh
seorang penjahit.
Bambang Wisudo berargumen
bahwa dalam pendidikan, kita tidak boleh hanya fokus pada hasil akhir,
melainkan juga pada proses yang dilalui. Analogi yang digunakan adalah ketika
kita memesan baju pada seorang penjahit, kita hanya peduli dengan hasil akhirnya,
yaitu baju yang sudah jadi. Namun, dalam pendidikan, proses pembelajaran itu
sendiri memiliki nilai yang sangat penting. Pandangan ini sejalan dengan
filosofi Ki Hajar Dewantara yang menekankan pentingnya menuntun peserta didik
dalam mencapai tujuan pendidikan.
Bagiamana filosofi tukang
jahit dalam Pendidikan seni?
Pendidikan Seni: Proses
sebagai Tujuan
Dalam pendidikan seni,
proses kreatif merupakan tujuan itu sendiri. Seni tidak hanya tentang
menghasilkan produk akhir yang indah, tetapi juga tentang perjalanan
eksplorasi, eksperimen, dan penemuan diri. Proses kreatif ini melibatkan
pengembangan estetika, imajinasi, dan keterampilan teknis. Jika kita hanya
fokus pada hasil akhir, maka kita akan kehilangan esensi dari pendidikan seni
itu sendiri.
Pendidikan seni
mengajarkan kita untuk menghargai keunikan setiap individu dan proses kreatif
mereka. Setiap karya seni adalah hasil dari perjalanan pribadi yang unik, di
mana seniman mengeksplorasi ide-ide, emosi, dan pengalaman mereka. Proses
kreatif ini tidak dapat dipaksakan atau dipercepat. Sebaliknya, ia membutuhkan
waktu, ruang, dan kebebasan untuk berkembang.
Dalam konteks pendidikan
seni, "menuntun" peserta didik tidak berarti mengarahkan mereka
menuju satu tujuan akhir yang sudah ditentukan. Sebaliknya, peran pendidik
adalah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peserta didik untuk
bereksplorasi, bereksperimen, dan menemukan seni mereka sendiri.