Sarapan Gratis Unesa: Menghadirkan Filsafat Kesejahteraan Dalam Dunia Pendidikan Tinggi
Pada
Desember 2025, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar inisiatif yang tak
biasa: menyediakan 39.000 paket sarapan gratis senilai Rp624 juta selama masa
Ujian Akhir Semester (UAS), tepatnya dari 15 hingga 24 Desember 2025 (Surabaya.kompas.com). Namun,
program ini bukan sekadar “bantuan sosial” ala kampus. Ia lahir dari kesadaran
filosofis yang dalam bahwa pikiran jernih tidak mungkin tumbuh di atas perut
yang lapar.
Dalam
perspektif filsafat, program ini menyambungkan tiga alur pemikiran besar:
Maslow, Epicurus, dan Aristoteles. Abraham Maslow menempatkan kebutuhan
fisiologis termasuk makanan sebagai dasar piramida hierarki kebutuhan manusia.
Tanpa pemenuhan kebutuhan dasar ini, mustahil seseorang mencapai ketenangan
psikologis, apalagi mengaktualisasikan potensi kognitifnya. Lapar bukan hanya
rasa, melainkan gangguan pada homeostasis tubuh yang menghambat kemampuan
berpikir rasional terutama saat mahasiswa sedang menghadapi tekanan ujian.
Epicurus,
sang filsuf Yunani kuno yang kerap disalah pahami sebagai penganjur hedonisme,
justru menekankan ataraxia: ketenangan batin yang muncul dari pemenuhan
kebutuhan sederhana. Bukan dari kemewahan, melainkan dari kecukupan. Sarapan
sederhana di Unesa roti, susu, atau nasi bungkus bergizi menjadi medium bagi
mahasiswa untuk terbebas dari kegelisahan fisiologis, sehingga pikiran mereka
dapat fokus pada tugas akademik.
Sementara
itu, Aristoteles menggambarkan nutrisi sebagai bagian dari “jiwa vegetatif,”
fondasi bagi phronesis atau kebijaksanaan praktis. Jika tubuh lemah karena
kelaparan, maka keputusan rasional pun ikut terganggu. Bahkan dalam tradisi
filsafat Timur seperti Ayurveda, kualitas makanan menentukan kualitas pikiran.
Makanan sattvika yang menenangkan dan menyehatkan mendorong kejernihan mental,
berbeda dengan makanan rajasik atau tamasik yang memicu kegelisahan atau
kelesuan.
Program
Unesa pun selaras dengan visi nasional Presiden Prabowo Subianto tentang
makanan bergizi gratis untuk 82 juta warga, sebagai strategi jangka panjang
melawan stunting dan memperkuat kualitas sumber daya manusia. Namun, dalam
konteks pendidikan tinggi, langkah ini memiliki dimensi tambahan: ia adalah
bentuk pengakuan bahwa kesejahteraan mahasiswa adalah prasyarat bagi
keberhasilan akademik.
Di sisi keadilan, inisiatif ini juga mencerminkan prinsip distributif John Rawls bahwa kebijakan publik harus menjamin akses yang adil bagi semua, terutama yang paling rentan. Dengan menjangkau seluruh mahasiswa tanpa diskriminasi, Unesa mencegah terjadinya disparitas kesejahteraan selama masa ujian, periode paling menentukan dalam studi mereka.
Namun,
pertanyaan kritis tetap harus diajukan: apakah anggaran Rp624 juta ini
digunakan secara efisien? Apakah program ini benar-benar meningkatkan
konsentrasi, prestasi akademik, atau indeks kepuasan mahasiswa? Tanpa evaluasi
berbasis data seperti survei dampak, korelasi dengan IPK, atau studi
longitudinal program ini berisiko menjadi simbolisme kepedulian tanpa bukti
empiris. Transparansi dan pengawasan ketat juga vital, mengingat potensi
penyimpangan dalam program berskala besar, sekecil apa pun, tetap ada.
Pada
akhirnya, sarapan gratis di Unesa bukan hanya tentang makanan. Ia adalah
pernyataan filosofis: bahwa pendidikan yang manusiawi harus dimulai dari
pengakuan akan kebutuhan dasar. Dalam dunia akademik yang sering terlalu sibuk
membicarakan kurikulum, publikasi, dan ranking, Unesa mengingatkan kita pada
hal paling mendasar bahwa pikiran tak bisa terbang jika perut terus berteriak.
Dan di sanalah, filsafat bertemu dengan realitas: dalam sebungkus nasi hangat
yang diberikan tepat waktu.