Prodi Pendidikan Sendratasik FBS UNESA Teliti Penerapan Teknik Pantomim untuk Anak Tuna Rungu di Bali dan Jombang: Wujud Nyata Pendidikan Seni Inklusi
Surabaya
– Program Studi
Pendidikan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya
(UNESA) terus menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan pendidikan seni
berbasis inklusi. Tahun ini, tim dosen dan peneliti menggelar penelitian
berjudul “Implementasi Teknik Pantomim Jemek Supardi pada Anak Disabilitas
Tuna Rungu di Sanggar Sekar Dewata, Gianyar, Bali dan Sekolah Pantomim
Nusantara, Jombang”.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Indar Sabri, S.Sn., M.Pd. bersama tim dosen Prodi Pendidikan Sendratasik FBS UNESA yang terdiri dari: Dr. Autar Abdillah, S.Sn.,M.Si, Dr. Welly Suryandoko, M.Pd, Dr. Arif Hidajad, S.Sn.,M.Pd, Syaiful Qadar Basri, S.Pd., M.Hum dan Anbie Haldini Muhammad, S.Sn., M.A ini menjadi langkah penting dalam memperkenalkan teknik pantomim khas Indonesia, hasil pengembangan maestro Jemek Supardi, sekaligus memberi ruang ekspresi seni bagi anak-anak dengan disabilitas, khususnya tuna rungu.

Menurut
Dr. Indar Sabri, pantomim memiliki kekuatan komunikasi nonverbal yang sangat
cocok untuk mengasah ekspresi diri anak-anak dengan keterbatasan pendengaran.
“Melalui teknik pantomim Jemek Supardi, anak-anak tidak hanya belajar seni,
tetapi juga membangun rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi mereka,”
jelasnya.
Selain fokus pada pengembangan keterampilan seni, penelitian ini juga memperkuat arah Prodi Pendidikan Sendratasik UNESA yang sejak lama memperhatikan pendidikan seni inklusi. Anak-anak disabilitas dan berkebutuhan khusus mendapat perhatian khusus dalam program ini, karena seni diyakini mampu menjadi media efektif untuk meningkatkan kreativitas sekaligus keterampilan hidup mereka.
Prodi Pendidikan Sendratasik juga terbuka terhadap mahasiswa berkebutuhan khusus. Bahkan, pada tahun 2004 dan 2005, program studi ini menerima dua mahasiswa difabel tuna rungu (deaf). Pengalaman tersebut menjadi pijakan penting dalam merancang penelitian inklusi saat ini.

Korprodi Pendidikan Sendratasik, Dr. Welly Suryandoko, M.Pd., menegaskan bahwa penelitian ini bukan hanya bentuk pengabdian akademik, tetapi juga wujud keberpihakan kampus terhadap akses pendidikan yang merata. “Kami ingin mahasiswa, dosen, dan masyarakat sama-sama belajar bagaimana seni dapat menjadi ruang bagi semua, tanpa terkecuali,” ujarnya.
Melalui
penelitian ini, diharapkan teknik pantomim Jemek Supardi dapat menjadi model
pembelajaran seni yang inklusif dan aplikatif di berbagai lembaga pendidikan,
sekaligus memperluas akses bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk
mengembangkan potensi diri mereka di bidang seni.