Panggung Pelajar, Arena Intelektualitas Seni: Ftpmn 2025 Buktikan Teater Bukan Sekadar Pertunjukan
Surabaya,
6 November 2025 — Festival Teater Pelajar dan Mahasiswa Nasional (FTPMN) 2025
memasuki babak krusial pada hari keduanya dengan menampilkan enam tim pelajar
SMA/SMK terbaik dari berbagai wilayah di Jawa Timur. Digelar di Graha
Sawunggaling, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), kompetisi ini tidak hanya
menjadi ajang unjuk kreativitas, tetapi juga ruang dialektika seni yang
memadukan kedalaman intelektual, kepekaan budaya, dan kecanggihan teknis
panggung.
Enam
karya teater yang dipentaskan hari ini hadir dengan narasi yang kaya dan
beragam, mencerminkan kepedulian pelajar terhadap realitas sosial, sejarah
lokal, dan isu kontemporer. Di antaranya adalah “Wishlist Dendam Ajeng” dari
SMAN 2 Mojokerto, “Bapakku Gino” dan “Sang Pengganggu” dari dua tim SMAN 1
Bojonegoro, “Hompipa” karya SMK Antartika 2 Sidoarjo, “Sabda Pareng Rusak” dari
SMAN 2 Nganjuk, serta “Rikolo Pagebluk: Kembalinya Suara Leluhur” oleh SMAN 1
Malang. Keberagaman judul dan latar belakang daerah peserta menjadi bukti nyata
komitmen FTPMN dalam memperkuat jejaring seni pertunjukan lintas wilayah
sekaligus mendorong regenerasi pelaku seni muda yang kritis dan reflektif.
Penilaian
dalam kompetisi ini dirancang secara akademis dan profesional. Dewan juri hari
kedua terdiri atas tiga tokoh yang mewakili trilogi keilmuan, pendidikan, dan
praktik seni teater: Dr. Autar Abdillah, M.Si., M.Pd. (akademisi);
Syaiful Qadar Basri, S.Pd., M.Hum. (Pembina KKM Teater Sendratasik FBS Unesa);
dan Budi Yasin, praktisi teater ternama dari DKI Jakarta. Penilaian mencakup
inovasi artistik, integritas naskah, penguasaan ruang panggung, dinamika
kelompok, serta penggunaan elemen teknis—seperti tata cahaya, suara, tata rias,
dan kostum dalam memperkuat penyampaian pesan.
Keberadaan
penonton yang membeludak sejak siang hari menunjukkan tingginya minat publik
terhadap teater pelajar. Antusiasme masyarakat Surabaya dan komunitas teater
lokal turut menciptakan ekosistem apresiasi yang sehat, sekaligus menjadi
dorongan moral bagi para peserta untuk tampil maksimal.
FTPMN
2025, yang diselenggarakan oleh Komunitas Kegiatan Mahasiswa (KKM) Teater
Sendratasik FBS Unesa, tidak hanya memenuhi fungsi kompetisi, tetapi juga
menjalankan peran strategis dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi:
pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Melalui panggung teater,
festival ini menjadi medium edukatif sekaligus ruang eksperimen estetika bagi
generasi muda.
Babak
final yang akan digelar akhir pekan ini diharapkan mampu melahirkan
talenta-talenta teater baru yang tidak hanya piawai di atas panggung, tetapi
juga mampu menjadi aktor intelektual—pelaku seni yang memahami posisinya dalam
konteks sosial, budaya, dan akademik yang lebih luas. Di tengah tantangan
zaman, FTPMN membuktikan bahwa seni teater tetap menjadi ruang vital bagi
dialog kritis dan ekspresi kemanusiaan.