Mencari Jejak Pencerahan Tubuh: Upaya Akademik Menguak Nalar Seni Gerak Melalui Lomba Pantomim Pelajar FTPMN 2025
Surabaya,
3 November 2025 – Di tengah hiruk pikuk modernitas yang dipenuhi kata-kata,
Auditorium T11 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya
(Unesa) menjadi saksi keheningan yang berbicara lewat seni: Lomba Pantomim
Pelajar sebagai bagian dari Festival Teater Pelajar dan Mahasiswa Nasional
(FTPMN) 2025. Diselenggarakan oleh Kelompok Kegiatan Mahasiswa (KKM) Teater
Sendratasik, lomba ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan gerak, melainkan
medan akademik yang menguji ketajaman observasi dan kedalaman ekspresi
non-verbal.
Pantomim,
sebagai seni pertunjukan yang mengandalkan bahasa tubuh, mimik muka, dan ilusi
ruang tanpa dialog, memiliki posisi strategis dalam kurikulum seni. Ajang ini
mempertemukan 16 tim pelajar dari tingkat SD hingga SMP, yang berasal dari
berbagai daerah seperti Surabaya, Mojosari, Jombang, dan Blitar. Lomba pantomim
FTPMN 2025 berfungsi ganda, sebagai ruang pengembangan bakat sekaligus
pengujian estetika panggung yang fundamental. Keistimewaan seni ini adalah
kemampuannya mengajarkan disiplin tubuh, ekspresi universal, dan komunikasi
tanpa batas bahasa. Bagi para pelajar, ini adalah latihan kritis untuk mengasah
empati dan kesadaran spasial—keterampilan yang berharga baik di atas panggung
maupun dalam konteks akademik dan sosial.
Kompetisi
dinilai oleh tiga akademisi handal dari Program Studi Pendidikan Sendratasik
FBS Unesa, yaitu Dr. Indar Sabri, S.Sn., M.Pd., Dr. Welly Suryandoko, M.Pd.,
dan Kun Baihaqi Almas, S.Pd. Kehadiran mereka menegaskan bahwa penilaian tidak
hanya didasarkan pada aspek teknis gerak (movement), namun juga bobot artistik,
interpretasi naskah meski tanpa kata, serta relevansi tema dengan konteks
kekinian. Standar kualitas yang diterapkan merupakan standar pendidikan seni
tinggi yang mengedepankan aspek pendidikan dan pembentukan karakter peserta.
Lomba
ini digelar pada Senin, 3 November 2025, mulai pukul 09.00 WIB di Auditorium
T11 FBS Unesa, yang menjadi pusat kegiatan seni dan akademik di fakultas
tersebut. Proses kompetisi dirancang ketat dengan pengaturan jadwal yang
presisi, dimana setiap tim mendapat durasi sekitar 10 menit untuk melakukan
pementasan. Kecepatan dan ketepatan jadwal menjadi pelajaran berharga bagi para
peserta dalam manajemen pertunjukan.
Secara
keseluruhan, Lomba Pantomim FTPMN 2025 bukan sekadar kompetisi, melainkan
representasi komitmen KKM Teater Sendratasik dan FBS Unesa dalam menanamkan
kecintaan terhadap seni pertunjukan sejak dini. Melalui gerak dan keheningan,
para pelajar belajar menjadi seniman yang cerdas, reflektif, dan mampu
menafsirkan kompleksitas dunia tanpa harus berucap. Inilah bentuk pencerahan
tubuh yang hendak diciptakan dalam ranah pendidikan seni.