Ludruk Generasi Z: KKM Status Prodi Pendidikan Sendratasik FBS Unesa Meretas Batas Tradisi Dalam "Ku Nanti Di Jogja"
Surabaya 31 Oktober
2025 — Di tengah gempuran
budaya pop global, Komunitas Kegiatan Mahasiswa (KKM) STATUS dari Program Studi
Pendidikan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri
Surabaya (UNESA), mengambil langkah progresif dan patut diapresiasi dengan Pagelaran
pertunjukan Ludruk bertajuk "Ku Nanti Di Jogja". Acara ini merupakan
bagian integral dari rangkaian bergengsi "Festival Cakdurasim" yang
secara historis menjadi penanda penting bagi perkembangan seni pertunjukan
rakyat Jawa Timur.
Ludruk, sebagai seni
teater tradisional yang identik dengan kritik sosial, komedi satire, dan
kekhasan parikan (pantun) serta tarian Remo, kini menemukan panggung
akademiknya. KKM STATUS, yang dibimbing oleh Dr. Autar Abdillah, S.Sn., M.Si.,
berusaha menjawab tantangan zaman: bagaimana melestarikan tradisi tanpa
terjebak dalam romantisme masa lalu.
"Ku Nanti Di
Jogja" bukan sekadar pementasan ulang naskah lawas, melainkan sebuah upaya
revitalisasi. Judulnya yang sarat nuansa kontemporer dan romansa,
mengisyaratkan perpindahan latar atau konflik yang relevan dengan generasi
muda, namun tetap berakar kuat pada pakem Ludruk yakni, cerminan realitas
sosial masyarakat kelas bawah. Inilah titik fokus akademik dari produksi ini:
mencari benang merah antara tradisi dan modernitas.
Produksi ini
menunjukkan keseriusan akademis dan artistik melalui komposisi tim yang solid.
Di bawah komando Sutradara Khotib Hidayatullah, S.Pd naskah Ludruk ini
diperkirakan akan menawarkan interpretasi baru terhadap struktur dramatik.
Ludruk tradisional seringkali bersifat episodik dan improvisatif. Namun, dengan
pembacaan sutradara dari latar belakang akademik Sendratasik, kita dapat
menantikan konstruksi plot yang lebih terencana, kedalaman karakterisasi, dan
alur yang kohesif.
Panggung akan
dihidupkan oleh kehadiran aktor-aktor muda berbakat seperti Letnan Bandi diperankan
oleh Jefri dan Laksmi diperankan oleh Rahma, yang dituntut tidak hanya piawai
berdialog dan berimprovisasi, tetapi juga mahir dalam gerak tari dan olah
vokal.
Aspek krusial lain
terletak pada tata musik. Komposer Jajak bersama tim pemusik menjanjikan
perpaduan yang harmonis antara gamelan Ludruk klasik dengan kemungkinan
eksplorasi bunyi kontemporer. Musik dalam Ludruk berfungsi sebagai narator
emosi; keberhasilan produksi ini akan sangat bergantung pada seberapa jitu
Komposer Jajak merangkai suasana drama dan komedi tanpa menghilangkan identitas
musikal Ludruk yang enerjik.
Tak lupa, tradisi
pembuka Ludruk, yaitu tarian, tetap menjadi elemen vital. kehadiran Penari Remo
(Obi, Angga, Bagus) dan Bedayan (Kristian, Rafli, Bimo). Tarian Bedayan dalam
pementasan Ludruk Jawa Timuran di Taman
Budaya Jawa Timur/TBJT), menjadi sinyal adanya dialektika budaya yang kaya,
sebuah praktik yang menarik untuk dianalisis oleh para kritikus seni.
Pertunjukan ini berlangsung
pada 31 Oktober 2025 Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Pemilihan lokasi ini
sangat strategis. TBJT adalah rumah bagi kesenian rakyat dan panggung ideal
untuk Ludruk, yang notabene adalah teater rakyat. Penempatan di TBJT menegaskan
posisi KKM STATUS bukan hanya sebagai kelompok akademik, tetapi juga bagian tak
terpisahkan dari ekosistem seni pertunjukan Jawa Timur.
pementasan menjelang
akhir bulan juga menjadi momentum tepat bagi publik dan akademisi untuk
menyaksikan bagaimana generasi baru seniman UNESA menerjemahkan warisan budaya
ini. Keberhasilan pementasan ini akan menjadi barometer penting bagi kurikulum
dan kualitas pengajaran di Prodi Pendidikan Sendratasik FBS UNESA dalam
mencetak lulusan yang tidak hanya mengerti teori, tetapi juga mampu memproduksi
karya seni yang aplikatif dan berdampak. Turut hadir juga Dr. Welly Suryandoko,
S.Pd., M.Pd, selaku koorprodi Pendidikan sendratasi, Dr. Autar Abdillah, S.Sn.,
M.Si Selaku Pembina KKM Status, serta para dosen: Prof. Dr. Anik Juwariyah,
M.Si, Dr. Indar Sabri, S.Sn., M.Pd, Dr. Arif Hidajad,
S.Sn., M.Pd dan Syaiful Qadar Basri, S.Pd., M.Humkehadirna para dosen
merupakan wujud nya ta kepedulian dan apresiasi serta penghargaan untuk para
mahasiswa dan alumni yang Bersatu untuk terus berkarya dan mengharumkan nama
baik Prodi Pendidikan Sendratasik, FBS Unesa.
Ludruk "Ku Nanti
Di Jogja" yang diprakarsai oleh KKM STATUS UNESA tidak hanya sekadar
tontonan, melainkan sebuah pernyataan (opini). Ia menyatakan bahwa Ludruk tidak
mati, hanya bertransformasi. Melalui tangan dingin Sutradara Khotib
Hidayatullah dan dukungan penuh dari pimpinan Prodi, mahasiswa Sendratasik
telah membuktikan bahwa ruang akademik adalah inkubator terbaik bagi
pelestarian sekaligus pembaharuan tradisi.
Diharapkan,
pertunjukan ini tidak hanya memukau penonton di TBJT, tetapi juga memicu
diskusi akademik lebih lanjut mengenai masa depan Ludruk di era digital,
memastikan bahwa semangat kritik sosial dan kelucuan khas almarhum Cak Durasim
tetap relevan dalam estafet generasi seni pertunjukan Indonesia. Publikasi ini
mengajak seluruh khalayak, terutama akademisi dan pemangku kebijakan budaya,
untuk hadir dan mendukung langkah berani mahasiswa UNESA ini.