Kritik dan Refleksi Sosial Mewarnai Pertunjukan Teater di Hari Terakhir FTPMN 2025
Surabaya,
7 November 2025 - Festival Teater Pelajar dan Mahasiswa Nasional (FTPMN) 2025,
yang diprakarsai oleh Komunitas Kegiatan Mahasiswa (KKM) Teater Sendratasik FBS
Unesa, mencapai klimaksnya dengan sukses menggelar pementasan ketiga sekaligus
terakhir dari tangkai lomba teater. Peristiwa yang berlangsung dengan
antusiasme luar biasa di Graha Sawunggaling, Unesa, ini bukan sekadar penutup
kompetisi, melainkan manifestasi perlawanan naratif mahasiswa dan pelajar
terhadap isu-isu fundamental bangsa.
Pementasan
terakhir, yang dilaksanakan pada Jumat, 7 November 2025, mempertemukan lima tim
teater unggulan dari berbagai Sekolah Menengah Atas di Indonesia. Mereka hadir
bukan hanya dengan pementasan, tetapi dengan tesis artistik yang kuat. Kelima
tim tersebut adalah:
1.
Kostrad
dengan naskah "Sakral": Menampilkan drama yang sarat makna spiritual
dan refleksi kehidupan, menggali kedalaman eksistensial manusia di tengah
pusaran modernitas.
2.
Teater
Kompas membawakan "Machiavellian": Sebuah karya tajam yang
mengeksplorasi analisis politik, strategi kekuasaan, dan hubungan manipulatif
antar manusia, mengundang penonton untuk mempertanyakan moralitas dalam arena
sosial.
3.
Teater
Krida Smala dengan pertunjukan "Sekar Pinalih": Mengangkat cerita
tradisional yang kental dengan nilai budaya, menjadi pengingat pentingnya akar
lokal di tengah gempuran globalisasi.
4.
Nityadharaka
Theatre hadir dengan naskah "Temaram": Menyajikan kisah penuh nuansa
gelap dan harapan, merangkai kontradiksi kehidupan melalui visual yang puitis.
5.
Teater
Ambigu menutup acara dengan drama berjudul "Caruk": Sebuah
pertunjukan dengan nuansa satir dan kritik sosial yang kuat, menggunakan komedi
gelap untuk menguliti kepincangan realitas.
Keragaman
naskah, mulai dari spiritual hingga satir politik, menegaskan bahwa teater di
tangan generasi muda telah menjadi alat yang sah dan efektif untuk menyoroti
kerumitan dunia.
Lomba
ini berpusat di Graha Sawunggaling UNESA dan berlangsung meriah pada malam hari.
Dipilihnya kampus sebagai arena pementasan memperkuat fungsi teater sebagai
bagian integral dari Tri Dharma Perguruan Tinggi sebuah wahana penelitian,
pendidikan, dan pengabdian masyarakat melalui seni. Panggung ini menjadi ruang
di mana teori yang dipelajari di kelas Sendratasik diterjemahkan menjadi aksi
nyata yang informati, ilmiah dan menggugah.
Suasana
teater pada malam itu dipenuhi oleh antusiasme luar biasa. Tingginya
partisipasi penonton, termasuk mahasiswa S1 Pendidikan Sendratasik angkatan
2024 seperti Rara, menegaskan bahwa pertunjukan ini berhasil memicu dialog.
Rara, seorang mahasiswi yang tengah menempuh mata kuliah Penyutradaraan,
menyampaikan kekagumannya terhadap "kreativitas dan keberanian para pemain
yang mampu mengangkat tema-tema yang sangat berbeda".
FTPMN
2025, khususnya tangkai lomba teater, jauh lebih dari sekadar kompetisi. Ia
berperan sebagai wahana ekspresi seni yang memberi ruang bagi para mahasiswa
dan pelajar untuk mengasah dan menunjukkan kemampuan artistiknya. Festival ini
berfungsi sebagai penghubung yang mempererat tali persaudaraan antar mahasiswa
seni dari berbagai penjuru negeri, mendorong kolaborasi, dan yang terpenting, mencetak
generasi yang tidak hanya mahir berakting, tetapi juga memiliki kedalaman
wawasan (aktor intelektual) untuk berkontribusi memajukan seni pertunjukan
sebagai bagian integral dari kebudayaan nasional.
Kesuksesan
hari terakhir ini menegaskan komitmen KKM Teater Sendratasik FBS Unesa dalam
menyediakan platform yang mengkolaborasika disiplin akademik dengan
praktik lapangan, memastikan bahwa teater Indonesia memiliki masa depan yang
cerdas, reflektif, dan berani bersuara.