Kampus Bukan Menara Gading, Tapi Panggung Perlawanan: FTPMN 2025 Akhiri Festival dengan Epilog Intelektual
Surabaya,
7 November 2025 — Festival Teater Pelajar dan Mahasiswa Nasional (FTPMN) 2025
resmi ditutup dengan Malam Penganugerahan yang digelar di Graha Sawunggaling,
Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jumat malam (7/11). Penutupan ini bukan
sekadar pengumuman pemenang, melainkan sebuah pernyataan eksplisit bahwa kampus
adalah laboratorium seni yang hidup tempat akademik dan seni berpadu untuk
melahirkan “aktor intelektual” yang kritis, reflektif, dan berani bersuara.
Selama
lima hari penuh (3–7 November 2025), FTPMN 2025 menyelenggarakan tiga tangkai
lomba utama: Pantomim Pelajar, Monolog Mahasiswa, dan Teater Pelajar/Mahasiswa.
Ratusan peserta dari berbagai daerah berkompetisi dalam medium seni pertunjukan
yang tidak hanya menguji keterampilan teknis, tetapi juga kedalaman ide,
orisinalitas interpretasi, dan relevansi sosial karya mereka. Malam
penganugerahan menjadi puncak dari proses seleksi ketat yang melibatkan dewan
juri gabungan akademisi seni dan praktisi teater nasional.
Festival
ini diinisiasi oleh Komunitas Kegiatan Mahasiswa (KKM) Teater Sendratasik,
Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa, dengan dukungan penuh dari pimpinan
universitas mulai dari Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dekan FBS,
hingga Direktur Kemahasiswaan. Hadir pula para mitra strategis seperti Djarum
Foundation, PUI Seni Budaya Unesa, Cak Bakir Tretes, serta media partner yang
turut memperkuat ekosistem seni pertunjukan nasional.
Seluruh
rangkaian FTPMN 2025 berlangsung di kampus Unesa, dengan Graha Sawunggaling
sebagai pusat aktivitas utama. Sejak 3 November, ruang ini bertransformasi:
dari arena kompetisi intens menjadi ruang dialog, apresiasi, hingga kolaborasi
lintas budaya dan disiplin ilmu.
FTPMN
2025 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi wujud konkret penerapan Tri
Dharma Perguruan Tinggi pendidikan, penelitian, dan pengabdian melalui seni.
Setiap karya peserta dinilai bukan hanya dari daya tarik panggungnya, melainkan
juga integritas konseptual, ketajaman kritik sosial, dan kematangan artistik.
Model penjurian yang menggabungkan perspektif akademik (doktor dan magister
seni) dan praktik profesional (termasuk praktisi dari Dewan Kesenian Jakarta)
memastikan bahwa pemenang yang lahir adalah seniman muda yang mampu
mempertanggungjawabkan pilihan artistiknya secara intelektual.
Dengan
kehadiran jajaran pimpinan Unesa secara langsung, festival ini mengirim pesan
kuat: seni dan budaya khususnya teater bukan pelengkap pendidikan, melainkan
pilar strategis dalam pembentukan karakter dan kecerdasan kritis generasi muda.
FTPMN 2025 membuktikan bahwa kampus tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi
juga mencetak pelaku seni yang mampu berdialog dengan realitas bangsa.
Penutupan
FTPMN 2025 bukanlah akhir, melainkan awal dari gerakan berkelanjutan: membangun
teater nasional yang berakar pada akademik, berjiwa kritis, dan berdaya ubah
sosial. Di tengah arus budaya instan, festival ini menegaskan bahwa panggung
teater tetap menjadi ruang paling autentik untuk berpikir, bertanya, dan
berjuang dengan tubuh, suara, dan jiwa.