HITAM DI ATAS PUTIH: Kritik Sosial Dalam Balutan Gerak Dan Simbol
Pada
tanggal 24 Mei 2025 Prodi Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni,
Universitas Negeri Surabaya, telah digelar sebuah pertunjukan teater non-realis
berjudul “Hitam di Atas Putih”. Pementasan ini dilangsungkan di Aula Gedung T11
lantai 3 dan berlangsung sekitar 15 menit. Meskipun durasinya relatif singkat,
pertunjukan ini mampu menyampaikan pesan mendalam melalui pendekatan artistik
yang kuat, dengan jumlah pemain yang cukup banyak sehingga memberikan kesan
dinamis dan dramatis pada setiap adegannya.
Pertunjukan
hasil binaan Dr. Arif Hidajad, S.Sn., M.Pd ini menggunakan pendekatan teori
tokoh Antonin Artaud, Dimana dalam
konsepnya artaud mengatakan bahwa teater tidak hanya sekadar media hiburan atau
cerminan realitas, tetapi harus menjadi alat untuk mengguncang jiwa penonton,
mengubah cara pandang mereka terhadap dunia, dan membongkar ketidakadilan
sosial yang sering kali terabaikan. Dalam Teater Kejam (Theatre of Cruelty),
Artaud menolak teater realistis yang berfokus pada dialog verbal dan plot
linear, karena dianggap gagal menyentuh inti eksistensi manusia.
Ia
lebih menekankan pada penggunaan: Gerak tubuh (body language),Simbolisme visual,
Musik dan suara intensif, Ruang panggung yang imersif, Bahasa yang bersifat
metaforis atau irasional. Tujuannya adalah untuk menghancurkan kebiasaan
berpikir penonton dan membawa mereka pada pengalaman emosional yang mendalam bahkan
traumatis agar bisa merefleksikan realitas hidup secara lebih tajam dan kritis.
Pementasan “Hitam di Atas Putih” sangat selaras dengan prinsip teater Artaud.
Tanpa terlalu mengandalkan narasi verbal, pertunjukan ini menggunakan gerak
tubuh, simbol warna, musik, dan tata panggung minimalis untuk menyampaikan
pesan yang bersifat universal dan reflektif.
Judul
“Hitam di Atas Putih” sendiri dapat dimaknai sebagai metafora tentang dualisme
kekuasaan dan ketidakadilan. Warna hitam dapat merepresentasikan kekuasaan,
dominasi, dan penindasan, sementara putih melambangkan kesucian, kebenaran, dan
nilai-nilai kemanusiaan. Namun, dalam konteks pementasan ini, hitam ditempatkan
"di atas", seolah ingin menegaskan bahwa nilai-nilai luhur seperti
HAM dan keadilan sedang tertindas oleh struktur kekuasaan yang otoriter dan
tidak manusiawi.
Melalui
ekspresi tubuh, gerakan tari, dan interaksi antar pemain yang dinamis,
pementasan ini berhasil menggambarkan situasi di mana manusia menindas manusia,
baik secara sadar maupun tidak sadar. Praktik ini masih terjadi di berbagai
level sosial: mulai dari desa-kota, sekolah, lembaga pemerintahan, hingga
perguruan tinggi institusi yang mestinya menjadi penjaga nilai-nilai
kemanusiaan justru kadang menjadi lokus pelanggaran hak azasi manusia.
Pementasan
teater non-realis “Hitam di Atas Putih” yang dipentaskan oleh mahasiswa Prodi
Pendidikan Sendratasik FBS UNESA merupakan bentuk ekspresi seni yang sarat akan
kritik sosial dan refleksi humanis. Melalui durasi yang singkat, pertunjukan
ini mampu menyampaikan pesan mendalam tentang realitas sosial yang masih jauh
dari ideal, meskipun kita berada di era modern yang penuh dengan informasi dan
kemajuan teknologi.